Dukung Kenaikan Harga BBM! (2)

June 23rd, 2010

Melanjutkan tulisan saya terdahulu, saya cuma ingin menegaskan bahwa kenaikan BBM bukanlah sesuatu yang bisa ditawar-tawar. Jika kita ingin Indonesia bangkit, maka subsidi BBM perlu dihapus! Berikut adalah beberapa pendapat saya tentang penghapusan subsidi BBM dalam bentuk tanya jawab.

Mengapa subsidi BBM perlu dihapuskan?

Alasan utamanya adalah karena BBM merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. BBM adalah hidrokarbon yang dibentuk dari proses yang berlangsung dalam skala waktu geologis. Dalam skala kehidupan manusia, BBM praktis merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Artinya, suatu saat nanti akan habis dan sebelum habis harganya akan terus meningkat. Jika BBM disubsidi dengan sistem harga retail tetap, maka besar subsidi sudah pasti akan terus membesar. Fakta ini adalah kenyataan hukum alam.

Tapi Indonesia adalah salah satu penghasil minyak terbesar di dunia?

Itu menurut buku PMP tahun 80-an :). Cadangan minyak Indonesia hanya 5 milyar barrel. Itu hanyalah 0,484% dari seluruh cadangan minyak dunia. Atau hanya 0,614% dari cadangan minyak negara-negara anggota OPEC.

Bagaimana dengan produksi minyak?

Produksi minyak Indonesia pada Agustus 2005 adalah 940 ribu barrel/hari. Ini jauh di bawah kuota OPEC yang besarnya 1,451 juta barrel/hari. Menurut data ini, produksi minyak Indonesia hanyalah 2.75% dari seluruh produksi negara-negara anggota OPEC.

Apakah produksi minyak Indonesia dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri?

Menurut BP, produksi minyak Indonesia turun 4,5% menjadi 1,13 juta barrel/hari. Sedangkan konsumsi minyak meningkat 1,4% menjadi 1,15 juta barrel/hari. Artinya, Indonesia harus mengimpor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Catatan: saya tidak tahu mengapa data dari Bloomberg berbeda dengan data dari EIA. Tapi bagaimanapun datanya, faktanya tetap yaitu bahwa produksi minyak Indonesia tidak dapat memenuhi kebutuhan dalam negerinya.

Selain itu perlu juga dipertimbangkan bahwa tidak seperti kebanyakan negara-negara penghasil minyak lainnya, Indonesia adalah negara yang banyak penduduknya. Walaupun cadangan minyak Indonesia tidak sampai 1% dari cadangan minyak negara-negara anggota OPEC, jumlah penduduk Indonesia adalah 42% dari seluruh jumlah penduduk negara-negara anggota OPEC.

Saya tidak setuju penghapusan subsidi BBM karena akan memberatkan rakyat! Dan kekayaan adalah milik negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat!™

Saya tidak setuju mempertahankan subsidi BBM karena akan memberatkan rakyat :). Subsidi BBM akan menghasilkan anggaran belanja negara yang defisit. Akhirnya akan berimbas kepada semakin banyaknya hutang negara atau nilai tukar Rupiah yang semakin melemah. Jika subsidi dipertahankan, efeknya akan jauh lebih memberatkan rakyat daripada jika subsidi dihapuskan.

Bagaimana seharusnya proses penghapusan subsidi dilakukan?

Secara bertahap dan berkesinambungan. Tidak seperti sekarang, kalau sudah terdesak, baru subsidi dikurangi. Seharusnya subsidi BBM direvisi misalnya 3 bulan sekali, ini adalah jangka waktu yang menurut saya tidak memberatkan rakyat dalam hal besar kenaikan harganya, tetapi juga cukup lama rentang waktu antara overhead administratif dalam menaikkan harga BBM.

Dan tentu saja, subsidi BBM tidak perlu ditunda hanya karena takut tidak dipilih dalam pemilu mendatang :).

Apa masalah terbesar dalam hal penghapusan subsidi ini?

Rakyat yang tidak dapat melihat sesuatu yang buruk bagi mereka, terutama untuk jangka panjang. Sebagian besar rakyat menuntut BBM disubsidi, tetapi mereka tidak mengerti bahwa subsidi BBM akan memberatkan mereka. Saya yakin para mahasiswa yang menolak kenaikan harga BBM memang tulus membela rakyat kecil, tetapi sepertinya mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.

Saya tidak setuju kenaikan BBM. Kalau pemerintah kekurangan dana, harusnya basmi korupsi, bukan dengan menaikkan harga BBM. Seandainya harga BBM dinaikkan, pasti akan dikorupsi juga.

Korupsi dan subsidi BBM adalah masalah besar bangsa Indonesia. Tetapi kedua-duanya bisa diselesaikan secara paralel. Seandainya besok korupsi 100% lenyap dari Indonesia, hal tersebut tidak dapat menyelesaikan masalah subsidi BBM. Suatu saat nanti APBN Indonesia akan defisit juga akibat beban subsidi BBM. Dan seandainya jika subsidi tetap dipertahankan, bukan merupakan jaminan bahwa korupsi akan hilang dari Indonesia.

Untuk membasmi korupsi caranya bukan dengan mempertahankan subsidi BBM, tapi dengan menegakkan supremasi hukum. Korupsi bukanlah alasan untuk tidak memperbaiki kinerja negara di bidang yang lain.

Berapa harga BBM di negara-negara lain?

Silakan lihat ulasan Fahmi di sini. Jika anda ingin menghitung perbandingan beban negara terhadap subsidi BBM, silakan gunakan tabel konsumsi BBM atau populasi negara tersebut.

Pendapatan per kapita Indonesia di bawah negara-negara lain yang harga BBM-nya lebih tinggi. Jadi mengapa mengikuti harga BBM di negara-negara tersebut?

Karena pendapatan per kapita, GDP atau GNP bukan merupakan parameter menentukan harga sebuah produk. Parameter-parameter penentuan harga sebuah produk adalah:

  • Biaya pembentukan bahan baku
  • Nilai tambah terhadap bahan baku
  • Transportasi dan distribusi
  • Profit bagi pelaku

GDP dan GNP mungkin hanya berpengaruh secara tidak langsung terhadap biaya yang dikeluarkan untuk membayar sumber daya manusia yang terlibat dalam proses pembuatan produk.

Karena itu, BBM tanpa subsidi di Indonesia kemungkinan besar akan lebih murah daripada sebagian besar negara-negara lain, karena:

  • Indonesia memiliki banyak ladang minyak dan relatif dekat dengan sumber minyak lain (Australia, Timor Timur, Malaysia, Brunei), sehingga meminimalkan biaya transportasi.
  • SDM Indonesia murah, sehingga meminimalkan biaya SDM.

Sedangkan profit bagi pelaku bisnis BBM hanya dapat diminimalkan jika terdapat pelaku bisnis lebih dari satu entitas dan tidak berlaku sistem kartel.

Changelog:

  • Tambahkan fakta mengenai banyaknya penduduk Indonesia dibandingkan negara-negara OPEC
  • Tambahkan opini tentang korupsi
  • Tambahkan taut ke daftar harga BBM dari Fahmi
  • Tambahkan wacana tentang GDP/GNP

Dukung Kenaikan Harga BBM!

June 23rd, 2010

Isu kenaikan BBM menjadi pokok pembicaraan di mana-mana. Sejak akhir tahun lalu, pemerintah sudah mengsosialisasikan hal ini di media massa. Pemerintah merencanakan untuk menaikkan harga BBM ini pada awal tahun ini. Tetapi mungkin bencana yang melanda Aceh dan Sumatera Utara membuat pemerintah berpikir dua kali untuk menaikkan harga BBM di awal tahun.

Menyikapi isu kenaikan BBM, sebagian besar masyarakat Indonesia sepertinya tidak setuju. Hanya sebagian kecil masyarakat yang setuju kenaikan ini. Pengamat ekonomi juga sepertinya terbagi menjadi dua bagian, yang setuju dan yang tidak setuju.

Saya sendiri termasuk yang setuju. Mengapa?

  • Subsidi energi adalah ide yang buruk. Subsidi energi membuat perekonomian bangsa ini menjadi begitu tergantungnya kepada subsidi energi. Subsidi energi juga yang membuat Indonesia sebagai negara terakhir yang keluar dari jeratan krisis moneter di pertengahan tahun 90-an. Subsidi BBM juga membuat APBN Indonesia menjadi tidak kompetitif dibandingkan negara-negara penghasil minyak lainnya.
  • Memang benar penghapusan subsidi akan membuat harga-harga melonjak dalam jangka pendek. Tetapi dana subsidi lebih baik dialokasikan untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Misalnya dengan meningkatkan alokasi dana pendidikan, investasi usaha kecil atau pembangunan infrastruktur. Dalam jangka panjang, realokasi subsidi energi ke sektor lainnya ini akan berdampak positif bagi masyarakat ketimbang dengan mempertahankan subsidi energi.
  • Adanya subsidi membuat infrastruktur transportasi masal menjadi tidak sekompetitif di negara lain. Akibatnya masyarakat memilih menggunakan mobil pribadi ketimbang menggunakan transportasi masal, toh harganya tidak jauh berbeda. Akibatnya kota-kota besar penuh dengan kemacetan yang juga merupakan salah satu sumber pemborosan energi.
  • Adanya subsidi ke satu jenis energi (BBM) menyebabkan jenis energi lain menjadi sangat tidak kompetitif. Jika negara ini memerlukan subsidi energi, maka sebaiknya subsidi tersebut dialokasikan ke jenis energi alternatif seperti Gasohol, Biodiesel atau Hidrogen. Walaupun menurut hemat saya sebaiknya hal tersebut tidak berupa subsidi, tetapi cara lain seperti misalnya insentif pajak. Dengan demikian, Indonesia akan menjadi tidak tergantung kepada satu jenis energi saja.
  • BBM, gas alam dan batu bara adalah bahan bakar fosil. Bahan bakar fosil adalah sumber energi yang tak dapat diperbaharui. Efeknya pada suatu saat sumber energi ini akan habis. Selain itu harganya juga akan selalu bergerak naik karena penawaran (supply) yang akan selalu berkurang. Akibatnya subsidi bahan bakar fosil semakin lama akan semakin memberatkan APBN Indonesia.

Tentunya restrukturisasi di bidang yang lain yang merugikan negara juga tidak kalah penting. Misalnya penanganan kasus korupsi, pencurian kayu, pencurian sumber daya kelautan, restrukturisasi perbankan dan sebagainya. Tetapi penanganan hal tersebut tentunya bisa dilakukan secara paralel dengan restrukturisasi subsidi BBM. Jangan karena masalah-masalah tersebut belum dapat diatasi, lantas kita merasa tidak perlu untuk melakukan restrukturisasi subsidi BBM.

Untuk mengurangi efek negatif harga BBM yang naik, pemerintah seharusnya mengizinkan pihak swasta dalam hal eksploitasi dan distribusi BBM atau sumber energi lainnya. Setelah itu laju kenaikan harga BBM akan dapat dikontrol melalui mekanisme pasar seperti di negara lain. Akibatnya BBM tidak memberatkan APBN negara, dan rakyat juga dapat menikmati sumber energi yang murah. Murah dalam artian harganya wajar, tidak dimahal-mahalkan, dan juga tidak dimurah-murahkan. Pemerintah bisa tetap mengambil keuntungan dari BBM melalui pajak.

Kenaikan harga BBM akibat penghapusan subsidi akan meningkatkan harga-harga dalam jangka pendek. Kendati demikian hal tersebut akan berefek lebih baik untuk jangka panjang ketimbang dengan harus mempertahankan subsidi. Peningkatan harga BBM sedikit banyak akan membuat popularitas pemerintah menurun, tetapi negara ini sedang membutuhkan pemimpin yang berani melakukan hal yang baik untuk rakyatnya, bukan pemimpin yang hanya melakukan hal yang disukai rakyatnya.

Dukung penghapusan subsidi BBM! Berhematlah dalam menggunakan energi!

Krisis Minyak Dunia dan Indonesia

June 23rd, 2010

Saat ini dunia sangat bergantung kepada minyak bumi sebagai sumber energi. Namun, minyak bumi ini adalah sumber energi yang tak dapat diperbaharui. Sedikit yang membantah bahwa minyak bumi suatu saat akan habis dan manusia akan terpaksa beralih ke jenis energi lainnya. Yang menjadi masalah kini bukanlah apakah minyak akan habis, tetapi kapan minyak akan habis. Ini adalah yang kita sebut sebagai krisis minyak dunia.

Memperkirakan Hubbert Peak

Cara yang paling banyak digunakan untuk memperkirakan mulainya krisis minyak adalah Hubbert Peak yang diperkenalkan oleh ahli geofisika M. King Hubbert. Hubbert Peak adalah sebuah model untuk mengestimasi puncak dari produksi minyak dunia.

Pada tahun 1956, Hubbert memprediksikan bahwa produksi minyak di Amerika Serikat akan mencapai puncaknya pada tahun 1970. Dan ternyata puncak tersebut terjadi pada tahun 1971. Menurut Hubbard, cadangan minyak Amerika Serikat akan habis pada akhir abad ke-21.

Pada tahun 1971, Hubbert kembali mencoba untuk memprediksi puncak produksi minyak, kali ini untuk produksi minyak dunia. Menurut beliau, puncak produksi minyak dunia akan terjadi pada tahun 1995-2000. Prediksi ini meleset karena sampai saat ini produksi minyak dunia masih menunjukkan peningkatan. Tetapi ada kemungkinan ini disebabkan oleh faktor-faktor lain yang dapat menunda peak ini, yaitu: krisis energe 1997, perang teluk, dan resesi pada tahun 1980 dan 1990-an.

Salah satu organisasi yang paling konservatif dalam memprediksi Hubbert Peak adalah the Association for the Study of Peak Oil and Gas (ASPO). Organisasi ini pernah memprediksikan bahwa Hubbert Peak akan terjadi pada tahun 2000, 2002, 2004 dan kini mereka memperkirakan bahwa Hubbert Peak akan terjadi pada tahun 2007. Walaupun akibatnya kini banyak yang tidak mempercayai organisasi ini, perubahan tersebut terjadi karena peningkatan produksi di Rusia serta peningkatan produksi dari sumber-sumber non konvensional seperti pasir minyak.

Freddie Hutter dari Trendlines.ca –salah satu kritikus dari ASPO– berpendapat bahwa Hubbert Peak akan terjadi pada tahun 2010. Freddie Hutter juga melakukan kompilasi beberapa pendapat mengenai kapan Hubbert Peak ini akan terjadi.

Berikut adalah grafik buatan Freddie Hutter yang merupakan kompilasi dari beberapa pendapat tentang Hubbert Peak dari Exxonmobil, OPEC, EIA, IEA, Jean Laherrère, Colin Campbell (ASPO), Total, BP dan Rembrandt Koppelaar.

Peak Oil Prediction

Dapat dilihat bahwa Hubbert Peak diprediksikan akan terjadi paling cepat tahun 2007 (prediksi Colin Campbell dari ASPO) dan paling lama sekitar tahun 2050 (prediksi Exxonmobil, OPEC dan EIA). Namun perlu diperhatikan bahwa pihak-pihak yang memprediksikan bahwa peak masih lama terjadi adalah pihak-pihak yang berkepentingan terhadap eksploitasi minyak bumi.

Puncak Produksi di Indonesia

Di atas adalah perkiraan peak produksi minyak untuk seluruh dunia. Lalu bagaimana dengan peak di Indonesia? Menurut publikasi BP yang berjudul “Statistical Review of World Energy 2005″, produksi minyak tertinggi Indonesia terjadi pada tahun 1977, dengan rata-rata sebesar 1685 ribu barrel/hari. Setelah itu, produksi minyak Indonesia tidak pernah lagi mencapai angka tersebut. Pada tahun 2004, produksi minyak Indonesia hanyalah sebesar 1126 ribu barrel/hari. Angka ini sudah berada di bawah konsumsi BBM Indonesia yang jumlahnya sebesar 1150 ribu barrel/hari.

Berikut adalah grafik produksi dan konsumsi BBM di Indonesia dari tahun 1965 sampai 2004 berdasarkan data dari BP:

Produksi dan Konsumsi Minyak Indonesia

Menurut BP, cadangan minyak Indonesia yang dapat dibuktikan keberadaannya hanyalah sekitar 4.7 miliar barrel.

Pada tahun 2004, Kelompok Kerja Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam (Pokja PA-PSDA) dan Koalisi Ornop Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan mengirim sebuah memorandum kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Memorandum ini berjudul “Usulan Kebijakan Energi Untuk Keamanan Pasokan Energi Untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan”. Memorandum ini mengatakan bahwa minyak bumi Indonesia akan habis dalam waktu 15-20 tahun, gas alam dalam waktu 35-40 tahun dan batubara dalam waktu 60-75 tahun.

Sedangkan Presiden SBY sendiri mengatakan bahwa minyak Indonesia akan habis dalam 15 tahun, gas alam dalam 60 tahun dan batubara dalam 150 tahun.

Kesimpulan

Penggunaan sumber daya alam hidrokarbon, terutama bahan bakar minyak perlu direduksi untuk menghindari semakin parahnya krisis energi di masa yang akan datang. Kenaikan harga BBM tanggal 1 Oktober besok menyebabkan banyak sekali reaksi dari masyarakat. Namun sebagian besar reaksi ini memperhitungkan kenaikan harga BBM semata-mata dari sisi makroekonomi saja. Seakan-akan diasumsikan bahwa sumber daya minyak adalah sumber daya alam yang tidak akan pernah habis.

Perlu disadari oleh kita semua bahwa suatu saat BBM akan habis. Kalaupun tidak dirasakan oleh kita sendiri, anak cucu kita yang akan merasakannya. Dengan demikian, semua argumen tentang kenaikan harga BBM tanpa memperhitungkan faktor kelangkaan energi tidaklah lengkap dan perlu mendapat revisi yang menyeluruh.

Dukung kenaikan harga BBM!